Monday, January 5, 2015

KETAHUILAH BAHWASANNYA ALLOH DI ATAS LANGIT

Oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Pengantar:
Berikut ini saya sampaikan sebuah risalah yang sangat berharga tentang aqidah islam yang benar berkaitan tentang di mana Alloh. Banyak di antara kaum muslimin, tatkala ditanya: "Di mana Alloh"? mereka seakan-akan terhenyak, kelimpungan, bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Hal ini dikarenakan kebodohan yang menyebar di kalangan kaum muslimin akan agama mereka. Berbeda pada zaman Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam, sebagaimana pada hadits budak wanita yang tatkala akan dimerdekakan oleh tuannya, di datangkan kepada Rasululloh. 

Kemudian si budak wanita tersebut oleh Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam ditanya: "Di mana Alloh?", budak tersebut menjawab: "di langit". Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam bertanya lagi: "Siapa saya?", budak itu menjawab: "Engkau adalah utusan Alloh". Kemudian Rasululloh menyuruh tuannya untuk memerdekakannya, karena ia seorang mukminah. Lihatlah, aqidah Islam yang murni dan sesuai fithroh ini. Seorang budak, yang kebanyakan waktunya untuk tuannya, jarang bertemu dengan Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam, akan tetapi ia mengetahui aqidah yang benar tentang di manakah Alloh. Bandingkanlah dengan zaman kita sekarang....

Kemudian jika sebagian dari kaum muslimin ada yang menjawab, maka akan ditemui berbagai macam jawaban. Ada yang menyatakan Alloh di dalam hatiku, Alloh dimana-mana (Subhanalloh 'amma yaqulun). Adalagi yang menjawab Alloh tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di luar ataupun di dalam; jika demikian dimanakah Alloh? Sungguh, ini merupakan aqidah yang bathil, karena pada hakikatnya ia hendak mengatakan bahwa Alloh itu tidak ada (Subhanalloh 'amma yaqulun). Semoga risalah ini dapat memberikan penjelasan tentang di manakah Alloh sebenarnya. Adapun untuk lebih memperluas pembahasan hendaknya melihat kitab-kitab Aqidah, seperti Aqidah Wasithiyah, al Hamawiyah, at Tadmuriyah ketiganya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Aqidah Thohawiyah beserta Syarahnya oleh Abul Hasan ‘Ali bin Abil ‘Izz al Hanafi, dll
(Penulis-Penterjemah)

Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah –rohimahulloh- ditanya tentang dua orang yang berselisih dalam masalah aqidah. Salah seorang di antara keduanya berkata: “Barangsiapa yang tidak menyakini bahwasannya Alloh subhanahu wa ta’ala berada di langit maka dia telah tersesat”.
Sementara yang satunya berkata: “Sesungguhnya Alloh Subhanahu tidaklah dibatasi oleh tempat".
Kedua orang tersebut merupakan penganut madzhab Syafi’i. mohon jelaskan kepada kami, apa yang harus kami ikuti dari aqidahnya Imam Syafi’i radhiyallohu ‘anhu. Dan perkataan manakah yang benar tentang di mana Alloh?
Jawab:
Al Hamdulillah.
Aqidah Imam Syafi’i radhiyallohu ‘anhu dan aqidahnya “salaful Islam”, seperti Ats Tsauri, al Auza’i, Ibnul Mubarok, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rohawayh merupakan aqidah yang dianut para masyayikh seperti Fudhoil bin ‘Iyadh, dan Abu Sulaiman ad Daroniy, Sahl bin ‘Abdillah at Tusturiy dan lainnya dari para imam. Sesungguhnya tiada pertentangan di antara para imam di dalam masalah ushuluddin.
Demikian pula Abu Hanifah rohmatallohi ‘alaih, sesungguhnya aqidah yang tsabit dari beliau dalam masalah tauhid dan qodr serta yang lainnya sesuai dengan aqidah para imam tersebut. Aqidah mereka seperti aqidahnya para sahabat dan orang-orang yang mengikuti sahabat dengan baik. Yaitu aqidah yang tertuang di dalam al Kitab dan as Sunnah.
Imam Syafi’i berkata di dalam awal kitabnya ‘Ar Risalah”:
“Segala puji bagi Alloh, Dia-lah (Alloh) yang mensifati diriNya (dengan sifat yang Ia kehendaki), dan dengan sifat yang di atas sifat makhluqNya”.
Beliau rahimahulloh menerangkan bahwasannya Alloh di sifati sesusai dengan sifat yang Alloh sifatkan atas diriNya di dalam KitabNya, dan melalui lisan RasulNya Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam. Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahulloh- (berkata):

“Alloh tidaklah disifati kecuali dengan sifat yang Alloh sifatkan atas diriNya sendiri, atau yang disifatkan oleh RasulNya Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam tanpa adanya tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. Para imam menetapkan sifat bagi Alloh sebagaimana Alloh menetapkan untuk diriNya dengan nama-nama yang baik (Asmaul Husna), sifat yang Tinggi (Sifatu ‘Ulya). Para imam mengetahui bahwasannya (Alloh) (Tidak ada yang semisal denganNya, Dia maha Mendengar dan Melihat.)1 di dalam sifatNya, tidak pula dalam Dzat maupun PerbuatanNya.

Pada firmanNya:
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy 2, dan Dia-lah yang berbicara dengan Musa secara langsung,3 Dia-lah (tatkala) menampakkan kepada gunung, dijadikan gunung itu hancur lebur.4 Tidak ada sesuatu dari segala sesuatu yang ada ini semisal denganNya dalam sifatNya, IlmuNya tidak sama seperti ilmunya makhluq, QudrahNya tidak sama seperti qudrahnya makhluq, rahmatNya tidak seperti rahmatnya makhluq, tidak pula sifat istiwa’nya Alloh sama seperti istiwa’nya makhluq, tidak pula pendengaran dan penglihatanNya seperti pendengaran dan penglihatan makhluq, tidak pula kalamNya seperti kalam makhluq dan penampakkan Alloh tidak sama seperti penampakkannya makhluq.

Alloh subhanahu telah mengabarkan kepada kita bahwasannya di dalam surga terdapat daging dan susu, ‘aslan dan air, sutra dan emas. Ibnu ‘Abbas radhiyallohu ‘anhuma berkata: “Segala sesuatu yang ada di dunia tidaklah sama dengan yang di akhirot, kecuali sebatas namanya semata”.
Demikianlah, makhluq-makhluq yang tidak nampak tidaklah sama dengan makhluq yang nampak –meskipun namanya bersesuaian-. Maka Alloh sang Kholiq lebih Agung dan Maha Tinggi, jelas sangat berbeda dengan makhluqNya, jika dibandingkan perbedaan yang terjadi di antara makhluqNya meskipun namanya bersesuaian.
Alloh telah menyebut dirinya dengan Hayyan (Maha Hidup), ‘Aliiman (Maha Mengetahui), Sami’an Bashiron (Maha Mendengar dan Melihat), Roufan Rohiiman (Maha Lembut dan Penyayang); tidaklah sama sifat al Hayyu (Hidup) dengan hidupnya makhluq, sifat ‘Aliimnya Alloh dengan aliimnya makhluq, mendengarnya Alloh dengan mendengarnya makhluq, melihatnya Alloh dengan melihatnya makhluq, sifat lembutnya Alloh dengan lembutnya makhluq, dan tidak pula rohiimnya Alloh dengan rohimnya makhluq.
Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam bersabda dalam hadits Jariyah yang terkenal : “Di mana Alloh?”. Budak itu berkata: “Di langit”. Akan tetapi maknanya tidaklah menunjukkan bahwasannya Alloh di kelilingi langit, atau langit itu membatasi Alloh. Karena hal ini tidak pernah seorangpun dari para Imam salaf yang mengatakan hal tersebut. Bahkan mereka menyepakati bahwasannya Alloh di atas langit, di atas ‘Arsy, di atas makhluqNya; tidak satu bagian pun dari makhluqNya dalam dzatNya, dan tidak satu bagian pun dari Dzat Alloh terdapat pada makhluqNya.

Imam Malik bin Anas rohimahulloh berkata: “Sesungguhnya Alloh di atas langit, ilmuNya berada di setiap tempat. Barangsiapa yang menyakini bahwasannya Alloh dibatasi oleh langit, atau Alloh membutuhkan ‘Arsy atau selain ‘Arsy –dari makhluq-makhluqNya-, atau Istiwa’nya Alloh di atas ‘Arsy seperti istiwa’nya makhluq di atas kursinya, maka dia telah tersesat, mubtadi’, jahil. Barangsiapa yang menyakini bahwasannya Alloh tidak di atas langit yang kepadaNya (hamba) menyembah, atau tidak di atas ‘Arsy dimana hamba sholat dan sujud kepada Rabbnya, dan Muhammad tidak bermi’raj kepada rabbnya, dan menyakini bahwasannya al Qur’an tidak diturunkan kepada Beliau Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam, maka ia adalah mu’thil, bersifat seperti Fir’aun, tersesat, mubtadi’. Beliau –rahimahulloh- juga berkata -setelah kalimat yang panjang- tentang seseorang yang berkata: “Barangsiapa yang tidak menyakini bahwa Alloh berada di langit, maka dia tersesat”, jika yang ia maksudkan barangsiapa yang tidak menyakini bahwa Alloh berada di jaufi langit, dengan maksud langit membatasi dan melingkupi Alloh maka ini adalah salah.

Jika yang ia (orang pertama dari yang berselisih-pent) maksudkan adalah barangsiapa yang tidak menyakini segala keterangan yang berasal dari al Kitab dan as Sunnah, dan yang disepakati oleh para imam salaf, yaitu bahwasannya Alloh di atas langit (beristiwa) di atas ‘Arsy, di terpisah dari makhluqNya (telah sesat) maka ia benar. Karena sesungguhnya seseorang yang tidak menyakini sebagaimana yang diyakini para sahabat dan para imam salaf, maka dia telah mendustakan Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam, tidak mengikuti sabilul mukminin. Bahkan pada hakikatnya dia penolak sifat dan menafikan sifat bagi Rabbnya. Pada hakikatnya ia tidak beribadah kepada rabb yang kepadaNya ia menyembah, tidak pula kepada Rabb yang ia meminta dan memaksudkan (doanya).
Alloh telah menciptakan hamba, baik yang bangsa arab maupun ‘ajam (non arab), yang mana tatkala hamba tersebut berdoa kepada Alloh, hamba tersebut menghadapkan hatinya ke atas. Dan tidaklah mereka menghadapkan hatinya ke bawah kaki mereka.
Oleh karena itu sebagian ahli ma’rifat, tidaklah tatkala ia berdoa: Ya…Alloh !! kecuali mendapatkan di dalam hatinya –sebelum ia menggerakkan lisannya untuk berdoa- sebuah kecondongan hati ini menengadah ke atas. Tidaklah hatinya menoleh ke kanan maupun ke kirinya.

Adapun bagi kalangan ahlul hulul wa ta’thil mereka terkena syubhat di dalam perkara ini, yang bertentangan dengan Kitabulloh dan Sunnah RasulNya Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam, serta kesepakatan para salaful ummat. Fitrah yang Alloh berikan kepada hamba-hambaNya, dan segala sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil-dalil ‘aqliyah yang shohihah semuanya menunjukkan bahwasannya Alloh di atas makhluqNya, Maha Tinggi di atas makhluqNya. Alloh telah menciptakan atas makhluq itu sifat lemah, shobiyan, a’rob di dalam al Kitab sebagaimana Alloh telah menciptakan fithroh mereka untuk menyakini penciptaan oleh Alloh Ta’ala.

Nabi Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam telah bersabda dalam hadits shohih: “Setiap anak yang baru lahir dalam keadaan fithroh, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi……..” kemudian Abu Huroiroh radhiyallohu ‘anhu berkata: “Jika kalian mau silakan baca

"(Tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia berdasarkan fithroh tersebut. Tidak ada perubahan pada fithroh Alloh. )5

Inilah makna yang terkandung dalam perkataan Umar bin Abdul Aziz:
“Wajib atasmu dengan agamanya orang Arab dan shobiyan dalam al Kitab. Atasmu fithroh yang Alloh fithrohkan atasnya. Karena sesungguhnya Alloh menciptakan hambaNya di atas al haq. Para rosul diutus untuk menyempurnakan dan menetapkan fithroh, bukan untuk mengurangi dan mengubahnya.

Adapun musuh para rasul, seperti Jahmiyah, pengikut Fir’aun dan yang lainnya; mereka hendak mengubah fithroh Alloh, menyusupkan syubhat kepada manusia dengan kalimat-kalimat yang mutasyabihat, yang mana kebanyakan manusia tidak mengetahui maksud kalimat-kalimat tersebut. Dan mereka tidak mempunyai niatan yang baik untuk menjelaskan (perkataan mereka).

Pangkal kesesatan mereka adalah perkataan mereka dengan kalimat-kalimat yang mujmal/ global. Kalimat-kalimat tersebut tidak bersumber dari Kitabulloh, tidak pula dari sunnah RasulNya Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam, tidak pula dari perkataan para imamnya kaum muslimin. Misalnya (perkataan mereka) dengan lafadz at tahayyiz, jisim, jihah dan yang lainnya.

Maka bagi siapa saja yang mengetahui syubhat-syubhat mereka hendaknya menjelaskan syubhat-syubhat tersebut (kepada kaum muslimin sehingga kaum muslimin terhindar dari kesesatan). Sedangkan bagi mereka yang tidak mengetahui syubhatnya, hendaknya ia menghindar dari perkataan-perkataan ahlu mutasyabihat, tidak menerima kecuali yang bersumber dari Kitabulloh dan as Sunnah. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala


"Jika engkau melihat orang-orang yang mengolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkan mereka hingga mereka mengganti pembicaraan yang lainnya”6

Barangsiapa yang berbicara tentang Alloh dalam asma wa shifatNya dengan pembicaraan yang menyelisihi al Kitab dan as Sunnah, maka ia termasuk golongan orang yang berbicara tentang ayat-ayat Alloh dengan cara yang batil.
Banyak manusia yang mereka itu menisbahkan atas suatu perkara kepada para imamnya kaum muslimin, yang mana para imam sendiri tidak pernah menyatakannya. Mereka menisbahkan suatu kenyakinan kepada Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik dan Abu Hanifah, yang mana para imam tersebut tidak pernah menyatakannya. Mereka berkata kepada para pengikutnya: “Ini merupakan aqidahnya Imam Fulan”. Akan tetapi jika ditelusuri dengan berdasar dalil-dalil naqli yang shohih dari para imam, maka terbuktilah kedustaan mereka.

Berkata Imam Syafi’i:
“Hukumanku kepada ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah korma dan sandal. Kemudian di arak keliling kabilah-kabilah serta kampung. Kemudian dikatakan: Inilah hukuman bagi yang meninggalkan al Kitab dan As Sunnah dan berpaling kepada ilmu kalam”.

Berkata Abu Yusuf al Qodhi:
“Barangsiapa yang menuntut ilmu agama dengan ilmu kalam, maka dia adalah zindiq”.

Berkata Imam Ahmad:
“Barangsiapa yang murtad dari ilmu kalam, maka dia beruntung”.

Berkata sebagian ulama:
“Mu’aththil (orang penolak sifat) itu beribadah kepada sesuatu yang tidak ada, sedangkan mumatsil (orang yang menyerupakan Alloh dengan makhluq) menyembah patung. Orang mu’aththil itu buta, sedang mumatsil a’sya. Adapun agama Alloh di antara yang berlebih-lebihan dan yang meremehkan/ bermudah-mudahan dalam agama”.

Alloh Ta’ala berfirman:


“Demikianlah Kami jadikan kalian itu ummat yang pertengahan”.7

Kedudukan As sunnah dalam Islam, seperti Islam di antara millah-millah. Selesai wal hamdulillahi robbil ‘alaamiin….[Majmu’ al Fatawa (5/261-265)]

Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Muslim dari Risalah Sual wa Jawab li Syaikhil Islam Ibn Taimiyah : Aina Alloh?

Catatan Kaki
[1] QS. Asy Syuraa 11
[2] QS. Al Hadiid 4
[3] QS. An Nisaa' 164
[4] QS. Al A'raaf 7
[5] QS. QS ar Rum 30
[6] QS. Al An'am 68
[7] QS. Al Baqoroh 143


Baca Ini Juga

Memuat...
Copyright © 2014 Blogger Bumi Lasinrang. All Rights Reserved. Template by CB Blogger. Powered by Blogger.