Ayo menyumbang

Ayo menyumbang

Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

Saturday, May 9, 2015

BOLEHKAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QUR'AN atau MENYENTUH MUSHAF?

Bismillah Assalamu alaikum



Dua pertanyaan dan jawaban atas keduanya. Kami sajikan dengan singkat. Semoga bermanfaat dan dimanfaatkan.
[1] BOLEHKAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QUR'AN?
[2] BOLEHKAH WANITA HAIDH MENYENTUH MUSHAF [AL-QUR'AN]?
‎------------------------------
[1] BOLEHKAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QUR'AN?
JAWAB: Terjadi perselisihan pendapat antara ulama, antara yang melarang dan membolehkan.
Berikut kita tuturkan secara singkat pendapat mereka beserta dalilnya.

PENDAPAT PERTAMA: "Wanita Haidh dilarang membaca Al-Qur'an"
Ini adalah pendapat jumhur ulama -rahimahullah-. Wanita Haidh dilarang membaca Al-Qur'an dan diperbolehkan untuk membaca dzikir yang tertera di Al-Qur'an, seperti Basmalah, Tahlil atau doa semacam 'Rabbana aatina fid dunya hasanah...etc'.
Dalil mereka:
1.    Bahwasanya keadaan haidh adalah seperti keadaan junub. Seseorang yang junub terlarang membaca Al-Qur'an [terlebih menyentuh mushaf langsung] hingga ia mandi/bersuci. Ini adalah dalil qiyas.
2.    Hadits Ibnu Umar, perkataan Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:
لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن

"Janganlah seorang yang haidh dan junub membaca sesuatu dari Al-Qur'an" [H.R. Tirmidzy, Ibnu Majah, Daruquthny dan Baihaqi]
Namun hadits ini digolongkan dhaif dan tidak sah untuk dijadikan hujjah atas hukum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata: "Ini adalah hadits dhaif yang disepakati kelemahannya oleh para ahli hadits"
PENDAPAT KEDUA: "Wanita haidh diperbolehkan membaca Al-Qur'an"
Ini adalah madzhab Maliky, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan di-tarjih oleh Imam Asy-Syaukaani -rahimahumullah-.Dalil mereka:
1.    Bahwasanya asal segala sesuatu adalah BOLEH sebelum ada nash/teks yang melarangnya. Dan tidak ada teks secara shariih [langsung/jelas/straight] yang melarang wanita haidh membaca Al-Qur'an. Jikalau ada, itu adalah hadits dhaif, seperti yang dituturkan di atas tadi.
2.    Bahwasanya Allah Ta'ala memerintahkan kepada umat Islam secara UMUM untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur'an. Maka siapapun tidak terlarang membacanya, kecuali jika ada dalil yang menahan seseorang membacanya karena sifat atau keadaan tertentu. Sedangkan keadaan haidh, seperti point 1, tidak ada nash yang melarangnya.
3.    Bahwasanya qiyas yang dituturkan oleh jumhur; menyamakan antara keadaan junub dan haidh adalah qiyas yang tidak tepat. Karena seseorang yang dalam keadaan junub, ia memiliki pilihan masa/waktu untuk mengembalikan kondisi sucinya dengan mandi junub kapanpun ia mau. Sementara wanita haidh, ia adalah daur alami yang mana tidak bisa dienyahkan dan diubah kondisinya menjadi suci hingga berakhir masanya tanpa kehendak wanita. Juga, masa haidh bukanlah masa yang pendek. Dan bukankah kita tidak layak meninggalkan Al-Qur'an berhari-hari?
4.    Bahwasanya pelarangan wanita haidh untuk membaca Al-Qur'an mengakibatkan lupanya ia akan Al-Qur'an. Ini juga bisa bermakna wanita disempitkan masanya untuk membaca Al-Qur'an sehingga banyak pahala yang tidak ia dapatkan.
Setelah menimbang dalil-dalil kedua pendapat tersebut, maka yang lebih rajih dan kuat bagi saya adalah pendapat kedua, yaitu: WANITA HAIDH BOLEH MEMBACA AL-QUR'AN. Wallahu a'lam
=====================================
‎[2] BOLEHKAH WANITA HAIDH MENYENTUH MUSHAF [AL-QUR'AN]?
JAWAB: Adapun perkara ini, maka tidak sama dengan soal pertama. Dan ada dua pendapat ulama mengenai hal ini: Satu pendapat 'melarang', satu lainnya 'membolehkan'.
Ulama yang membolehkan wanita haidh menyentuh mushaf beralasan bahwa ini adalah tashiil [pemudahan] bagi umat Islam; karena persyaratan harus suci dalam menyentuh Al-Qur'an menimbulkan masyaqqah [kesulitan/keberatan] bagi umat.
Ulama yang melarang wanita haidh menyentuh mushaf beralasan dengan dalil:
1.    Firman Allah ta’ala:
لا يمسه إلا المطهرون

"Tidaklah ada yang menyentuhnya kecuali [orang-orang] yang suci".
2.    Pesan Nabi Muhammad pada penduduk Yaman, dengan tulisan:
ألا يمس القرآن إلا طاهر

"Agar janganlah Al-Qur'an disentuh kecuali oleh orang yang [dalam keadaan] suci" [H.R. Malik; Nasaa'i; Ibnu Hibban dan Baihaqy]
Setelah menimbang alasan-alasan kedua pendapat, maka yang lebih rajih dan kuat bagi saya adalah pendapat kedua, yaitu: WANITA HAIDH DILARANG MENYENTUH MUSHAF AL-QUR'AN SECARA LANGSUNG [tanpa perantara]. Wallahu a'lam
Oleh : Ust. Hasan Al-Jaizy, 24 Juli 2012


Baca Ini Juga

Memuat...
Copyright © 2014 Blogger Bumi Lasinrang. All Rights Reserved. Template by CB Blogger. Powered by Blogger.