Ayo menyumbang

Ayo menyumbang

Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

Tuesday, July 28, 2015

Ummu Mahjan radhiyallahu ’anha

Namanya tidah semasyhur Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ’anha. Bahkan telah disebutkan di dalam ash shahih tanpa nama (majhul).

Bukan perawi hadits seperti ’Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ’anhuma yang masuk di dalam sepuluh besar deretan perawi.

Bukan prajurit yang gagah berani seperti Ummu ’Umarah radhiyallahu ’anha. Pahlawan Perang Uhud yang ikut melindungi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saat pasukan muslimin kocar-kacir.

Lalu, kalau memang tidak memiliki ”keistimewaan” mengapa mendapat kehormatan kisahnya dibahas di sini? Jawaban saya karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberi perhatian khusus kepadanya.

Ummu Mahjan adalah seorang shahabat wanita tua lagi hitam. Dia termasuk penduduk Madinah. Seorang wanita miskin yang memiliki fitrah yang lemah.

Namun ia tidak bimbang dan ragu dan tidak mau ketinggalan untuk turut berkiprah. Ia tidak meninggalkan suatu kedudukan karena putus asa dalam hatinya. Putus asa itu tidak pantas muncul di hati dan jiwa kaum mukminin.

Keimanan telah menunjukinya untuk menunaikan peran sertanya. Kemudian ia bangkit untuk membersihkan kotoran dan menyiapkan shalat dua hari raya di masjid. Ia menyapu masjid dan menjaga kebersihan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Masjid memiliki peran penting di dalam Islam, yaitu menghasilkan para tentara dan ulama. Rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah majelis yang ditetapkan lima kali dalam sehari untuk musyawarah, saling memahami dan saling mencintai. Sebagai keberadaan lembaga untuk pusat pendidikan amaliyah yang mendasar di dalam membangun umat.

Karena itulah Ummu Mahjan tidak meninggalkan dengan kesungguhannya yang dihiasi oleh ketawadhu’an. Ini adalah puncak dari tujuan yang mungkin ia persembahkan.

Ia tidak meremehkan perkara yang penting untuk berbuat baik kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ’anhum di dalam menjaba kebersihan tempat musyawarah mereka yang tinggi lagi kekal.

Terus menerus Ummu Mahjan radhiyallahu ’anha menunaikan tugasnya sampai ia meninggal di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Lalu para shahabat radhiyallahu ’anhum setelah sepertiga malam yang awal (waktu shalat isya’ yang akhir).

Namun mereka mendapati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sedang tidur. Mereka merasa enggan untuk membangunkannya lalu mereka menyalatkan jenazah Ummu Mahjan radhiyallahu ’anha dan menguburkannya di Baqi’ al-Gharqaad.

Di pagi harinya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merasa kehilangan Ummu Mahjan radhiyallahu ’anha. Beliau menanyakan tentangnya kepada para shahabatnya.

Mereka berkata: ”Ia telah dikuburkan, wahai Rasulullah. Sungguh kami telah datang kepadamu akan tetapi kami dapati engkau sedang tidur dan kami enggan untuk membangunkanmu.” Lalu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan para shahabat berbaris di belakangnya. Beliau menshalatkannya dengan bertakbir empat kali. (*)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Ummu Mahjan radhiyallahu ’anha. Sungguh ia adalah seorang wanita tua yang miskin lagi lemah. Meski demikian ia telah mempersembahkan sesuatu yang bernilai sesuai dengan kemampuannya. Kisah ini menjadi pelajaran bagi kaum muslimin pada perputaran sejarah agar tidak meremehkan sesuatu dari amalan meskipun sedikit.

Setelah membaca kisah ini saya merasa malu dan mawas diri. Apakah sumbangsih yang sudah saya lakukan demi Islam telah mencapai setetes keringat Ummu Mahjan radhiyallahu ’anha ? Bahkan apakah segala yang pernah saya lakukan itu cukup pantas untuk dinilai ? Wallahu a’lam.

(*) Lihat al-Ishabah (8/187), al-Muwaththa’ (1/227), an-Nasa’1 (1/69) dan ini adalah hadits mursal. Akan tetapi telah datang maknanya secara tersambung dengan riwayat al-Bukhari dan Muslim.


Baca Ini Juga

Memuat...
Copyright © 2014 Blogger Bumi Lasinrang. All Rights Reserved. Template by CB Blogger. Powered by Blogger.